
harwieb sebagai fasilitator
mei 2025
Saya pertama kali bertemu dengan Harry Wibowo (Harwieb), mungkin pada 2016. Waktu itu saya lagi riset soal banjir Jakarta dan urbanisasi (paska) Orde Baru untuk program doktoral saya. Sebelumnya mungkin saya pernah melihatnya di suatu atau berapa diskusi, tapi tidak berkenalan.
Pada waktu kuliah S-1 di Jogja, saya banyak membaca Jurnal Prisma. Pada waktu itu (2000-an), edisi-edisi Jurnal Prisma dengan mudah ditemukan di rak-rak buku di kos-kosan dan kontrakan mahasiswa di Jogja. Edisi-edisi Prisma tersebut juga dapat dengan mudah ditemukan di toko buku-toko buku bekas. Misalnya, di toko buku-toko buku bekas di Shopping Jogja, atau juga di toko buku-toko buku bekas yang ada di sekitar Gelanggang Mahasiswa UGM. Biasanya buku-buku itu dijual oleh pedagang kaki lima dengan menggunakan mobil pickup. Nyaris selalu, di sela-sela buku-buku tua di mobil-mobil pickup itu, ada edisi-edisi Jurnal Prisma.
Dari persentuhan dengan edisi-edisi Jurnal Prisma itu, saya jadi tahu bahwa di Jurnal Prisma ada banyak tulisan soal agraria, kota, dan urbanisasi. Karena itu, ketika mengerjakan disertasi, saya main ke Prisma untuk mengakses Prisma edisi-edisi lama tersebut. Kesekapatan dengan Harwieb pada waktu itu, saya dan kolega memindai Prisma edisi lama yang kami perlukan. Kami mendapatkan PDF dengan gratis. Di sisi lain, Prisma terbantu untuk secara pelan-pelan melakukan digitalisasi edisi-edisi lamanya.
Relasi kami terus berlanjut. Kelihatannya kemudian adalah dalam pasal soal menulis artikel untuk Jurnal Prisma. Ujungnya, pada 2019 saya menulis kali pertama untuk Jurnal Prisma; tentang krisis, ketidakadilan, dan keadilan sosial-ekologis. Dapat saya sebutkan, saya menyelesaikan tulisan itu karena provokasi Harwieb.
Setelah tulisan pertama di Prisma itu, saya secara rutin menulis di Prisma. Sejauh ini (dalam rentang 2019 – akhir Mei 2025), saya menulis 6 kali untuk Jurnal Prisma. Kegiatan menulis di Prisma yang menjadi salah satu media yang menjaga keberlanjutan komunikasi Harwieb dengan saya sejak 2016 itulah. Melalui proses menulis untuk Prisma juga saya tahu Harwieb sakit. Biasanya saya berhubungan dengan Harwieb, tapi kali itu dengan Bung Arya. (Yang saya ingat, menurut Harwieb, Bung Arya adalah seorang editor yang tiada duanya.) Menurut Bung Arya, Harwieb sakit. Beberapa kali saya masih komunikasi dengan Harwieb ketika dia sakit, lewat pesan dan telfon WA.
Awalnya saya panggil dia Pak. Dia memanggil saya Bung. Karena dipanggil Bung, lama-lama saya pangil dia mas, lama-lama berubah menjadi Bung. Lama-lama dia memanggil saya kamrat, lama-lama saya panggil juga dia kamrat.
Orang lain mungkin memiliki pengalaman yang berbeda. Yang dapat saya bagi berdasarkan pengalaman saya, Harwieb adalah seorang fasilitator menulis yang mumpuni. Bagi saya dia adalah seorang pakar yang mendorong saya menulis, membikin ide-ide tertuang ke dalam file, dan pada ujungnya diterbitkan di Prisma.
Caranya biasanya adalah mengontak, menjelaskan rencana suatu edisi tertentu Jurnal Prisma, mengeksplorasi ide dasar seorang penulis (dalam kasus ini saya), menyepakati poin-poin tertentu dalam outline (rancangan) tulisan, dan menyepakati jadwal. Tak lupa, sebelum jadwal yang disepakati untuk menyelesaikan tulisan tercapai, dia selalu punya cara untuk menanyakan apakah saya menggarap tulisan itu. Bisa saja dia mengirimkan suatu tautan tulisan di internet, obrolan mengalir, dan kemudian tanpa sengaja masuk ke tema bagaimana tulisan yang sedang digarap. Dia menjadi tahu saya sedang di titik apa dengan tulisan tersebut.
Atau, cara lain. Pada rentang 2019-2024, saya menghabiskan banyak waktu di Semarang. Ini seiring dengan program penelitian yang saya terlibat di dalamnya di Semarang. Seperti gasing, saya berputar-putar di sekitar Amsterdam-Delft-Utrecht-Den Haag-Sepaku(IKN)-Semarang. Entah berapa kali, saya tidak hitung. Setiap dia (akan) berada di sekitar Jawa Tengah atau Jogja, Harwieb biasanya mengontak, menanyakan apakah saya ada di Semarang, dan kalau ya mengajak ngopi. Kalau saya di Semarang, kami makan, ngobrol, dan ngopi. Sekali waktu kami minum bir juga sampai larut. Harwieb bocor, saya ember bocor. Di banyak kesempatan bukan cuma kami berdua, tapi dengan beberapa orang kawan yang lain, yang juga tinggal di Semarang.
Dalam obrolan-obrolan itu biasanya, kalau Harwieb ingin saya menulis untuk Prisma, maka dia akan menjelaskan rencana tema edisinya dan dia membayangkan saya menulis apa. Kalau saya sedang menggarap suatu tulisan untuk Prisma, di dalam kesempatan seperti itu biasanya terselip suatu obrolan tentang sudah sampai di titik mana proses menulis itu.
Jadi, dalam hal tulis-menulis, Harwieb adalah seorang fasilitator yang sangat telaten dan halus. Dalam kasus saya, saya sebut telaten karena dia selalu memiliki berbagai cara untuk menanyakan sampai di titik mana tulisan saya. Saya bayangkan, menemukan dan mengerjakan teknik-teknik seperti itu tidak mudah. Saya sebut halus karena di sisi penulis seperti saya, tidak setiap saat suasana hidup saya dalam keadaan baik. Kadang-kadang rasanya tenggat-tenggat dalam tulis-menulis ini sudah begitu ketat. Sebagai pekerjaan, rasanya tulis-menulis ini tak ada selesainya. Ibarat penderitaan, dia adalah timbunan. Halus – Harwieb tahu betul bagaimana caranya untuk tidak menambah tekanan dalam hidup saya.
Sebagai editor/komentator/reviewer untuk tulisan, di sisi lain, Harwieb amatlah tangguh. Contoh saya adalah ketika menulis untuk Prisma dengan tajuk “Belajar dari Perdebatan Muchtar Habibi dengan Noer Fauzi Rachman untuk Mengalibrasi Persoalan Agraria” (2024). Dalam tulisan itu, semua amunisi saya soal Marxisme – terutama pengetahuan yang saya dapat dari membaca tiga volume karya Marx, Kapital Volume 1, 2, dan 3 – tumpah. Untuk memberikan ilustrasi akan “ketangguhan” Harwieb yang saya maksud, saya salin dan tempel bagian dari tulisan tersebut dan komunikasi kami.
Pada satu titik versi awal tulisan saya, ada kalimat “Harga sepatu disebut nilai-tukar.” Persis di bagian itu, komentar tertulis Harwieb berbunyi:
“Menurut LTV (teori nilai kerja) harga (price) yang diukur dengan uang bukanlah nilai tukar (exchange value). Ada problem teoritis “transformasi dari nilai tukar menjadi harga suatu komoditi. Ini yang menjadi perdebatan panjang di kalangan ekonom Marxis sendiri dan juga ekonom Ricardian.”
Bagian yang saya kutip di atas, dalam komentar tertulis Harwieb, diikuti dengan kutipan panjang yang menerangkan nilai dalam Marxisme. Saya menyepakati komentar Harwieb terhadap versi awal tulisan saya di titik tersebut. (Saya juga menyepakati komentar dia di bagian-bagian lain tulisan saya itu.) Bagian itu saya ubah menjadi “Kemampuan komoditas untuk dipertukarakan disebut dengan nilai-tukar. Dalam sistem moneter pertukaran ini dimediasi oleh harga.”
Komentar tertulis balasan saya kepada Jurnal Prisma/Harwieb saya buka dengan paragraf berikut:
“Kepada yth Redaktur Pelaksana [sic] Prisma (Harry Wibowo) Terima kasih telah membaca dan memberikan komentar kepada draft tulisan saya. Komentar-komentar Anda sangat berguna memperbaiki tulisan tersebut, serta menjaga agar terhindar dari kesalahan konseptual yang memalukan.”
Pertemanan kami tumbuh, berkembang ke luar dari kerangka hubungan tulis-menulis untuk Prisma. Harwieb beberapa kali mengikuti dan berdiskusi dalam klub baca on-line yang saya fasilitasi. Seingat saya, saya beberapa kali juga berkunjung ke kantor Prisma untuk ngobrol tentang kapitalisme dengannya. Dan memang, tema obrolan kami tidak banyak. Rasanya hanya berputar-putar tentang kapitalisme, kapitalisme, dan kapitalisme. Belakangan, bersama beberapa orang kawan yang lain (Esher Tanga Toding, Herlily, Dian Tri Irawaty, dan Noer Fauzi Rachman) kami menjadi co-fasilitator untuk Klub Baca Reforma Agraria Perkotaan pada 2024.
Lebih jauh, kami juga menjadi panitia diskusi publik tentang reforma agrarian perkotaan yang diadakan di Kampung Akuarium Jakarta, juga pada 2024.
Dari bekerja bersama dalam kepanitiaan, saya jadi tahu bahwa Harwieb adalah orang yang sangat detil dengan perkara teknis. Dengan detil dia mengecek semua hal-hal teknis. Misalnya, akses internet untuk streaming di Youtube, siapa yang akan memantau dan menyerap komentar-komentar atau pertanyaan yang muncul di Youtube, siapa operator zoom dan apa-apa saja perannya, operator-operator kamera, persiapan listrik kalau PLN mati, apa yang akan dilakukan kalau hujan turun, dan lain-lain. Intinya, sampai segala hal yang memasilitasi agar diskusi berjalan dengan baik.
Dari persentuhan melalui bukan hanya dalam hal tulis-menulis untuk Prisma itu, saya menjadi semakin bisa melihat peran Harwieb sebagai fasilitator. Ilustrarsi abstrak saya sebagai berikut. Dalam diskusi-diskusi publik, Harwieb mungkin bukanlah orang yang selalu berperan memberikan materi atau menjadi pembicara, tapi dia adalah orang yang berperan kunci memasilitasi agar diskusi-diskusi itu bisa ada. Tanpa dia, mungkin diskusi-diskusi itu tidak akan pernah ada.
Karena itu, bagi saya Harwieb adalah seorang fasilitator. Ya fasilitator menulis, fasilitator membaca, dan fasilitator berdiskusi. Mungkin baginya, dia sebenarnya sedang memasilitasi sebuah perubahan sosial yang lebih dalam. Selamat jalan kamrat! (Rasanya mata memanas, mengenang obrolan-obrolan terbaik kita tentang kapitalisme.)
Bosman Batubara
Singapura, 23 Mei 2025
